Sepak
Bola, sepanjang perjalanannya sejak mulai dimainkan pelajar-pelajar Inggris di
era 1800-an hingga ditimang-timang selebritis lapangan hijau yang
berlenggak-lenggok dengan sepatu mengkilap di era modern telah meninggalkan
banyak jejak langkah, entah jejak dalam hal remeh-temeh seperti evolusi rancangan
bentuk stadion hingga makna permainan ini sendiri bagi masing-masing orang yang
terlibat atau melibatkan diri didalamnya, katakanlah rivalitas antar pendukung
tim. Rivalitas, ya rivalitas, Anda-anda yang tak menyukai permainan ini,
mungkin akan geleng-geleng kepala melihat bagaimana sepak bola telah menjadi
bagian jiwa bagi orang-orang yang menggilainya hingga dapat menciptakan
perseteruan yang rasa-rasanya tak masuk di akal sehat. Bagaimana mungkin permainan
yang dimainkan dua puluh dua orang yang sibuk mengejar-ngejar sebuah bola sepak
di lapangan rumput dapat menciptakan dampak yang begitu destruktif? Sudah tak
terhitung berapa nyawa yang hilang akibat perseteruan-perseteruan antar
kelompok pendukung tim-tim permainan ini. Agak kurang kerjaan ya? Tergantung
dari sudut pandang mana anda melihatnya.
Diantara
banyak rivalitas dalam sepak bola, derby
adalah penyumbang terbanyak perseteruan antar kelompok pendukung. Derby yang dalam bahasa sederhana adalah
pertandingan antar dua tim yang berasal dari wilayah atau kota yang sama, telah
menciptakan atmosfir berbeda dalam setiap gelarannya. Beberapa diantara yang
terpanas adalah Old Firm Derby antara Celtic dan Rangers di Glasgow, Derby
Della Capitale antara Lazio dan A.S. Roma di Roma, serta North London Derby di
antara Arsenal dan Tottenham Hotspurs di London. Ritus-ritus khusus dari kedua
kelompok pendukung yang berseteru banyak menandai perjalanan derby ini. Telah
kita lihat beberapa tahun yang lalu Pelatih Celtic, Neill Lennon, menerima parsel dari seorang
pendukung Rangers jelang Old Firm Derby, isinya? Sebuah bom. Berbagai cara akan
dilakukan masing-masing kelompok pendukung ini ketika tim yang didukung
mengalahkan tim seteru baik dalam pertandingan maupun juga dalam peringkat
klasmen liga untuk membuat kelompok pendukung lawan lebih menderita. Diantara
yang jarang diketahui adalah perayaan Hari St. Totteringham dari para pendukung
Arsenal.
Hari
St. Totteringham (kadang juga dikenal sebagai Hari Saint Totteridge) adalah
sebuah konsep yang diciptakan oleh pendukung Arsenal di awal 1990-an, pertama
kali dipublikasikan pada tahun 2002 di arseweb.com. Perayaan ini diadakan pada
hari ketika Arsenal telah mengumpulkan cukup poin dan secara matematis
dipastikan finis di peringkat yang lebih baik dari Tottenham dalam klasemen
liga. Pada tahun 2007 istilah ini pertama kali disebut (sebagai St. Totteridge)
pada poster promo resmi jelang pertandingan antara Arsenal lawan Aston Villa,
meskipun ada pendapat yang menyebutkan bahwa istilah ini telah ada sejak tahun
2005. Pada 2010, Hari St Totteringham mulai banyak disebut-sebut di media-media
mainstream. Berikut adalah daftar hari perayaan Hari St. Totteringham dari
tahun 1980 sampai 2012, yang diambil dari website chiark.greenend.org.uk:
Dilihat dari daftar diatas, sejak 1980 hingga 2012, Hari St. Totteringham telah dirayakan sebanyak 25 kali, sementara secara keseluruhan tiap musim sejak sebelum perang dunia pertama, Hari St. Totteringham telah dirayakan sebanyak 47 kali.
Dan berikut adalah klasemen sementara Premier League 2012/2013 sampai pekan ke-33:
Mengingat selisish poin diantara Arsenal dan Tottenham hanya berjarak 2 poin, terlebih lagi Tottenham masih menyisakan satu laga yang belum dimainkan, maka kemungkinan dirayakannya hari St. Totteringham masih 50:50.
Pertanyaanya, akankah ada perayaan yang sama pada tahun ini? Ahh, hilal sampai saat ini belum terlihat :)
Arsenal lebih baik dari Spurs
BalasHapusDari dulu sudah dibuktikan!